Pages

Rabu, 16 Februari 2011

PENGARUH STRUKTUR VEGETASI TERHADAP KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI PETAK 6, HUTAN WANAGAMA I, GUNUNGKIDUL


 INTISARI

                     Kondisi struktur vegetasi yang berbeda-beda di hutan Wanagama I karena adanya suksesi alam dapat mempengaruhi kondisi satwa burung di hutan Wanagama I. Penelitian ini dilakukan karena burung peka terhadap perubahan ekosistem dan lingkungan, sehingga hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan pengelolaan satwa burung pada umumnya dan pengelolaan satwaliar pada umumnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh struktur vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul.
         Metode pengambilan data untuk populasi burung adalah metode Point Count sedangkan data struktur vegetasi dengan membuat petak ukur protocol plot berbentuk lingkaran (r=11,3 m) dan analisis vegetasinya menggunakan nested sampling serta protocol untuk penutupan vegetasi pada tiap tingkatan pertumbuhannya dan penutupan tumbuhan bawah-tajuk. Analisis data keanekaragaman burung menggunakan Indeks Shannon; struktur vegetasi menggunakan indeks Simpson; sedangkan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman burung menggunakan perangkat lunak R Statistik dengan analisis regresi linier.
                        Hasil pengamatan keanekaragaman jenis burung yang didapatkan pada lokasi penelitian hutan Wanagama I petak  6 ditemukan 7 jenis burung dari 4 famili antara lain : Bubut 1 ekor, Cekakak sungai 3 ekor, Cabak gunung 1 ekor, Cinenen pisang 3 ekor, Cipoh 2 ekor, Kutilang 4 ekor, Prenjak 4 ekor. Hasil analisis faktor yang berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis burung didapat persamaan sebagai berikut : Y= 1.000e+00 - 1.203e-16X1 -1.035e-01X2.  Penutupan pohon ( X1) berbanding terbalik dengan keanekaragaman burung (Y) dan indeks diversitas pohon(X2) berbanding terbalik pula dengan keanekaragaman jenis burung.

Kata kunci : Keanekaragaman jenis burung, Struktur vegetasi,

Pendahuluan
Kondisi struktur vegetasi yang terbentuk di sekitar aliran sungai Oyo di Wanagama I menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat burung. Burung mempunyai salah satu peran yang sangat penting dalam habitatnya yaitu merupakan indikator bagi keanekaragaman hayati. Peran tersebut disebabkan oleh burung hidup tersebar di hampir seluruh bagian dunia dan hidup di hampir seluruh tipe habitat dan pada berbagai ketinggian tempat, peka terhadap perubahan lingkungan. Burung merupakan salah satu satwa yang dapat dijadikan bioindikator kualitas lingkungan. Keanekaragaman jenis burung yang ada dalam suatu kawasan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di mana dia tinggal. Banyak spesies satwa liar yang sensitif terhadap perubahan-perubahan yang disebabkan oleh campur tangan manusia pada penggunaan lahan. Burung dapat digunakan sebagai metrik yang dapat menentukan tingkat degradasi habitat atau sebaliknya untuk mengetahui level restorasi habitat. Sebagai contoh jika seseorang ingin mengakses status biodiversitas suatu kawasan, jumlah burung yang terancam secara umum dapat dijadikan indikator yang sesuai. Selain itu juga, jika seseorang ingin mengamati proses pemulihan vegetasi seiring dengan kerusakan yang dibuat manusia, komposisi dan diversitas burung dapat menjadi variabel kunci untuk terus di monitoring (Furness & Greenwood dalam Perrow dan Davy, 2002).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung di petak 6 , Hutan Wanagama I, Gunungkidul. Berdasarkan teori bahwa burung menempati habitat yang sangat bervariasi mulai dari struktur vegetasi dan faktor lingkungan, dan juga mengingat sebagian besar perubahan habitat di hutan Wanagama I terjadi secara suksesi atau kebalikannya, yaitu retrogresif. Oleh karena itu, konsep teori suksesi merupakan dasar yang sangat berguna untuk memprediksi adanya respon satwa liar terhadap perubahan habitat. Dalam penelitian kali ini habitat berupa pendekatan kelompok jenis tegakan yang ditanam di hutan Wanagama I.Burung merupakan salah satu kelompok satwa yang mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan, oleh karena itu burung dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan.  Perubahan kondisi lingkungan pada suatu ekosistem dapat dilihat dari perubahan populasi dan keanekaragaman jenis burung.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan di Wanagama I GunungKidul yaitu pada petak 6 yang memiliki struktur vegatasi yang berbeda dengan petak lainnya. Penelitian dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21November 2009. Pada penelitian ini alat dan bahan yang digunakan adalah binokuler, rol meter, kompas, klino meter, haga meter, buku panduan pengamatan satwa burung, kamera, jam tangan, tallysheet, pita diameter, alat tulis.
Pengamatan kelimpahan populasi menggunakan metode Points Count.Pengamatan ini dengan cara membuat titik-titik pengamatan dalam suatu ekosistem. Pada setiap titik pengamatan dilakukan pengamatan terhadap jumlah jenis dan kelimpahan burung yang ada pada jarak tertentu, baik yang terlihat secara langsung maupun hanya terdengar keberadaannya. Jarak tersebut menyesuaikan dengan kondisi vegetasi yang ada. Pengamatan dilakukan secara bersamaan di lokasi – lokasi yang telah ditentukan. Data yang dicatat adalah jenis burung yang dijumpai selama waktu pengamatan dan jarak individu burung dari pengamat.Struktur vegetasi diamati dengan membuat petak ukur (PU) protocol plot berbentuk lingkaran dengan jari-jari 11,3 m. Jarak antar PU adalah 200m dengan jumlah minimal 15 PU yang dianggap akan mewakili. Protokol plot tersebut selanjutnya dibagi menjadi 4 arah mata angin, yang masing-masing diambil data mengenai penutupan semak, belukar, tiang, dan pohon menggunakan Density Board. Selain itu diambil juga data penutupan tajuk dan herba menggunakan tabung okuler. Analisis vegetasi dilakukan dengan pembuatan nested sampling di dalam protokol plot dengan ukuran 1 X 1 m untuk rumput, 2 X 2 m untuk semai dan tumbuhan bawah, 5 X 5 m untuk sapihan, 10 X 10 m untuk tiang, dan 20 X 20 m untuk pohon. Kemudian diukur tinggi tegakan, luas bidang dasar, dan keadaan fenologi ( berbunga, berbuah, bersemi, dan meranggas ).
1.Keanekaragaman jenis burung di analisis menggunakan indeks Shannon Wiener. Analisis dilakukan menggunakan program excel “biological statistic”.
H =
Keterangan      :
H: Index Shannon-Wienner    N: Jumlah total Individu     ni :Jumlah individu spesies i
2. Struktur Vegetasi
Kelimpahan jenis vegetasi dihitung mengunakan indeks Simpson.
Keterangan :  D = indeks keanekaragaman jenis                N = jumlah total jenis
                      ni = jumlah individu suatu jenis                     S = jumlah jenis
Untuk mengetahui faktor-faktor vegetasi yang berpengaruh terhadap keanekaragaman burung di hutan Wanagama I Gunung Kidul maka digunakan analisis statistik. Disini digunakan regresi linear dimana suatu variabel akan berpengaruh terhadap keanekaragaman burung apabila diperoleh nilai signifikan(P) < 0,05.
Hasil
Tabel 1. Daftar jenis burung di petak 6
Petak
no
Jenis Burung
Jumlah
Pi
ln Pi
pi*lnpi
Famili
ni/N
ln ni/N
6
1
Bubut (Centropus nigrirufus)
1
0.055556
-2.89037
-0.16058
Cuculidae
6
2
Cekakak Sungai (Todirhampus chloris)
3
0.166667
-1.79176
-0.29863
Alcedinidae
6
3
Cabak Gunung
1
0.055556
-2.89037
-0.16058
Silvidae
6
4
Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius)
3
0.166667
-1.79176
-0.29863
Silvidae
6
5
Cipoh (Aegithinia tiphia)
2
0.111111
-2.19722
-0.24414
Silvidae
6
6
Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
4
0.222222
-1.50408
-0.33424
Pycnonotidae
6
7
Prenjak (Alcnedo athis)
4
0.222222
-1.50408
-0.33424
Silvidae


total
18






H'= - ∑pi*ln pi
1.83102

Tabel 2. Model Persamaan Terbaik

    Estimate
Std. Error
t value
Pr(>|t|)   
(Intercept)      
1.000e+00  
3.222e-17  
3.104e+16
<2e-16
PenutupanPohon
-1.203e-16  
1.065e-16 
-1.129e+00  
0.461
ID Pohon
-1.035e-01 
6.117e-17  
-1.692e+15
3.76e-16
Persamaan ini memiliki tingkat kepercayaan sebesar 100%
 Y= 1.000e+00 - 1.203e-16X1 -1.035e-01X2
Keterangan : Y= keanekaragaman burung       X1= Penutupan pohon           X2= ID Pohon
Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan metode point count pada petak 6 di hutan pendidikan wanagama I diperoleh 7 jenis dari 4 famili burung. Besar nilai indeks diversitas Shannon Wienner yang didapatkan dari data tersebut sebesar 1.83102. Dengan nilai indeks Shannon Wienner tersebut maka keanekaragaman burung di petak 6 hutan pendidikan wanagama I sedang, karena keanekaragaman dan keragaman dikatakan rendah jika nilainya <1, jika nilainya berkisar antara 1-2 maka dikatakan sedang. Sedangkan dikatakan tinggi jika nilainya >2 (Rury Epilurahman, 2007). 
Jenis burung yang paling dominan/paling sering ditemui di petak 6 hutan pendidikan wanagama I adalah Kutilang (Pycnonotus aurigaster) sebanyak 4 ekor dan Prenjak 4 ekor. Selain jenis itu burung yang banyak dijumpai juga adalah jenis burung Cinenen pisang (3),Cekakak sungai (3), Cipoh (2), bubut (1),dan Cabak gunung (1).
Sebagai dependent variable adalah Indeks Diversitas burung, sedangkan sebagai independent variable adalah penutupan semak, penutupan belukar, penutupan tiang, penutupan pohon, Indeks Diversitas pohon, Indeks Diversitas tiang, Indeks Diversitas sapihan, dan Indeks Diversitas semai didapat variable yang paling berpengaruh adalah penutupan pohon dan indeks diversitas pohon. Keduanya berbanding terbalik dengan anka keanekaragaman jenis burung karena mungkin ada human error dalam pengambilan data karena menurut teori burung menyukai penutupan pohon yang rapat/teduh agar terlindung dari sengatan matahari atau hujan serta dari pemangsanya. Begitu juga keanekaragaman pohon seharusnya berbanding lurus dengan keragaman jenis burung karena masing-masing jenis burung memiliki jenis tenggeran dan pakan yang berbeda-beda yang mempengaruhi mereka untuk datang ke habitat tersebut.
Kesimpulan
Struktur vegetasi berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis burung di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul.
Daftar Pustaka
Epilurahman Rury, Tony Febri Qurniawan, Trijoko. 2007.Mengungkap    Keanekaragaman Herpetofauna di Kawasan Wisata Gua Kiskendo Sebagai Upaya Pelestarian Fauna Indonesia. Departemen Penelitian dan Pengembangan. Jakarta.
Perrow, Martin R and Anthony J Davy. 2002. Handbook of Ecological Restoration   
          (Volume I : Principles of Restoration). Cambridge University Press: UK.
Tim Laboratorium Satwa Liar. 2008. Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Riset dan Manajemen Satwa Liar I. Fakultas Kehutanan. UGM. Yogyakarta.

Minggu, 13 Februari 2011

KELAYAKAN HABITAT PETAK 6, HUTAN WANAGAMA I SEBAGAI TEMPAT RESTORASI RUSA JAWA (Cervus timorensis)

INTISARI 

Rusa Jawa merupakan satwa yang hidup secara alami dan liar. Hutan Wanagama I memiliki kondisi habitat yang sangat mendukung berkembangnya Rusa Jawa di kawasan tersebut.Upaya pelestarian satwaliar perlu memperhatikan aspek sosial masyarakat & bukan hanya aspek biologis & ekosistem saja.Dampak negatif dari upaya pelestarian satwaliar perlu segera diatasi dengan memperhatikan kepentingan & aspirasi masyarakat. Disamping itu, masyarakat juga perlu mendapat informasi tentang pentingnya pelestarian satwaliar & manfaat yang bisa didapatkan jika satwa tersebut dijaga kelestariannya (Suratini, 2004).Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan habitat yang hasilnya mampu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan Rusa Jawa yang berhasil di Wanagama I.Tujuan dari penelitian ini adalah :1) Mengetahui pengaruh kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik dengan populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ;2) Mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan petak 6, hutan Wanagama I terhadap Rusa Jawa; 3) Memberikan masukan untuk membuat keputusan dan usaha konservasi Rusa Jawa di kawasan petak 6 hutan Wanagama I.
Metode yang digunakan untuk menghitung populasi Rusa Jawa adalah metode pellet count.Objek pengamatan dalam metode ini adalah kotoran satwa yang ditinggalkan dilokasi penelitian dalam satuan waktu tertentu.Sedangkan untuk pengambilan data habitat rusa digunakan membuat protocol plot dan inventarisasi vegetasi menggunakan nested sampling,sedangkan tutupan vegetasi dengan protocol sampling.Kemudian inventarisasi persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara.Data habitat rusa dianalisi dengan indeks Simpson, sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap populasi rusa menggunakan regresi linier, lalu persepsi masyarakat dengan prosentase dan interpretasi hasilnya secara deskriptif.
Hasil analisis regresi linier tidak didapatkan persamaan karena tidak ditemukan rusa di petak 6. Masyarakat tidak merasakan pengaruh terhadap kehadiran rusa & meskipun tidak merasakan manfaatnya, mereka menganggap rusa perlu untuk dilestarikan.
Pendahuluan
Rusa Jawa merupakan satwa yang hidup secara alami dan liar. Hutan Wanagama I memiliki kondisi habitat yang sangat mendukung berkembangnya Rusa Jawa di kawasan tersebut. Upaya pelestarian satwaliar perlu memperhatikan aspek sosial masyarakat dan bukan hanya aspek biologis dan ekosistem saja. Dampak negatif dari upaya pelestarian satwaliar perlu segera diatasi dengan memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat. Disamping itu, masyarakat juga perlu mendapat informasi tentang pentingnya pelestarian satwaliar dan manfaat yang bisa didapatkan jika satwa tersebut dijaga kelestariannya (Suratini, 2004). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan habitat yang hasilnya mampu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan Rusa Jawa yang berhasil di Wanagama I.          
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui pengaruh kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik dengan populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ; 2) Mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan petak 6, hutan Wanagama I terhadap Rusa Jawa (Cervus timorensis) ; 3) Memberikan masukan untuk membuat keputusan dan usaha konservasi Rusa Jawa di kawasan petak 6 hutan Wanagama I.
Berdasarkan teori, rusa jawa (Cervus timorensis) selain membutuhkan padang rumput juga membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan minum. Rusa juga memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relatif tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai (Djuwantoko, 2003). Hutan Wanagama I tersusun dari 169 jenis tumbuhan yang terbagi dalam 65 blok tanaman, pada perkembangan selanjutnya jenis-jenis vegetasi di hutan Wanagama I mencapai 190 jenis. Di lokasi tersebut juga terdapat sumber air yaitu dari sungai Oyo. Restorasi rusa jawa (Cervus timorensis) di hutan Wanagama I masih perlu dikaji melalui penelitian tentang karakteristik habitat yang sesuai dengan rusa jawa (Cervus timorensis), hal ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan restorasi tersebut.

Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul , penelitian dilakukan pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2009 dan 20 Desember 2009, mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB. Alat yang digunakan antara lain: peta lokasi ,GPS, alat tulis, buku penduan lapangan, counter, monokuler dan binokuler, kemera , jam tangan sebagai penunjuk waktu, range finder, thermohigro dan tabung okuler.
Metode yang digunakan untuk menghitung populasi Rusa Jawa adalah metode pellet count. Objek pengamatan dalam metode ini adalah kotoran satwa yang ditinggalkan di lokasi penelitian dalam satuan waktu tertentu. Pengambilan data vegetasi, ukuran plot sample kuadrat persegi yang sering digunakan dalam analisis vegetasi adalah 1× 1 m untuk rumput, 2 × 2 untuk semai dan tumbuhan bawah (tinggi di bawah 1,5 m), 5 × 5 m untuk sapihan (diameter di bawah 10 cm dan tinggi diatas 1,5 m), 10 × 10 m untuk tiang (diameter 10-20 cm) dan untuk pohon (diameter diatas 20 cm). Protocol sampling untuk mengetahui penutupan vegetasi tumbuhan bawah dan tajuk dengan menggunakan tabung okuler, serta menggunakan density board untuk mengetahui persentase penutupan tumbuhan bawah pada petak ukur lingkaran dengan diameter 22,6 m. Kemudian inventarisasi persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara.
Hasil
Analisis dengan regresi linier tidak ditemukan hasil persamaan karena tidak ada rusa yang ditemukan di petak 6 hutan Wanagama I, Gunungkidul.
Tabel 1. Respon masyarakat terhadap keberadaan rusa jawa di Wanagama  
Pertanyaan
Jawaban A
Jawaban B
Jawaban C
Jawaban D
Bertemu rusa
Pernah (8)
Belum pernah (8)
....(0)

Pengetahuan tentang rusa di Wanagama
Melihat sendiri (8)
Informasi masy. (7)
Aparat desa (0)
Lainnya (1)
Penyuluhan
Pernah(3)
Belum(12)
...(1)

Tanaman pertanian yg rusak
Tahu(12)
Tidak tahu(4)
...(0)

Yang dilakukan
Menangkap rusa untuk dijual/dimanfaatkan hasilnya (1)
Membiarkan saja (14)
Melapor pada pihak wanagama bahwa rusa merusak tanaman pertanian (0)
...(0)
Manfaat
Menambah indah pemandangan dan sebagai sarana hiburan (4)
Kurang merasakan adanya manfaat (11)
... (1)

Keberadaan rusa jawa
Perlu dilestarikan(10)
Tidak perlu dilestarikan(1)
Dibiarkan saja secara alami, apakah akan punah atau tetap ada (5)

Jika bertemu
Membiarkan saja(15)
Berburu/menangkap (1)
...(0)

Jika rusa keluar
Mengarahkan rusa kembali (9)
Menagkap (1)
...(6)

Kelestarian
Perlu(14)
Tidak perlu(1)
...(1)

Pengelolaan
Dibiarkan saja secara liar atau alami (8)
Perlu dibuatkan kandang utk rusa(7)
...(1)


Pembahasan
Pelepasliaran rusa jawa dari penangkaran dilakukan dalam rangka restorasi rusa jawa di Wanagama I. Pada petak 6 di hutan pendidikan wanagama I tidak di jumpai rusa. Sedangkan rusa tidak terlalu suka dengan habitat yang banyak dihuni oleh manusia.
Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang keberadaan rusa di petak 6 Wanagama I maka dilakukan metode wawancara kepada 16 responden yang melakukan aktivitas sehari-hari di sekitar kawasan petak 6. Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat di sekitar wanagama I mengetahui adanya rusa di Wanagama I khususnya petak 6. Meskipun beberapa masyarakat merasa dirugikan terhadap keberadaan rusa di petak 6 karena memakan tanaman pertanian masyarakat, pihaknya tetap merasa bahwa Rusa Jawa perlu dilestarikan, karena masyarakat merasa keberadaan Rusa Jawa di hutan Wanagama tidak mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Persepsi beberapa masyarakat tentang rusa yang mengganggu bisa diakibatkan karena kurangnya sosialisasi dari pengelola Wanagama tentang pengelolaan rusa di Wanagama I. Oleh sebab itu, sebaiknya ada kerjasama antara masyarakat dan pengelola Wanagama I untuk dapat mengelola rusa di dalam hutan wanagama I sehingga tidak hanya terwujud kelestarian bagi populasi rusa namun juga ekosistem hutan Wanagama I itu sendiri dan masyarakat sekitar hutan pendidikan Wanagama I.
Dari beberapa data pengamatan yang telah disajikan maka dapat dikatakan petak 6 hutan pendidikan wanagama I berpotensi sebagai lokasi restorasi Rusa Jawa. Namun, perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat di sekitar petak 6 agar dapat melestarikan keberadaan rusa dan tumbuhan yang ada di petak 13 dengan baik dan seimbang.

Kesimpulan
1) Kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik mempengaruhi populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ; 2) Masyarakat tidak merasakan adanya pengaruh dari kehadiran rusa & meskipun tidak merasakan manfaatnya, mereka menganggap rusa di kawasan petak 6, hutan Wanagama I perlu dilestarikan ; 3) Perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat di sekitar petak 6 agar dapat melestarikan keberadaan rusa dan tumbuhan yang ada di petak 6 dengan baik dan seimbang.
Daftar Pustaka
Alikodra, H. S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Anonim. 2009. Buku Ajar Petunjuk Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar. Lab. Satwa Liar, Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta
Suratini. 2004. Persepsi Masyarakat Sekitar Hutan Terhadap Keberadaan Rusa Jawa (Cervus timorensis russa, Mull & Schl) di Hutan Wanagama I. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta