INTISARI
Rusa Jawa merupakan satwa yang hidup secara alami dan liar. Hutan Wanagama I memiliki kondisi habitat yang sangat mendukung berkembangnya Rusa Jawa di kawasan tersebut.Upaya pelestarian satwaliar perlu memperhatikan aspek sosial masyarakat & bukan hanya aspek biologis & ekosistem saja.Dampak negatif dari upaya pelestarian satwaliar perlu segera diatasi dengan memperhatikan kepentingan & aspirasi masyarakat. Disamping itu, masyarakat juga perlu mendapat informasi tentang pentingnya pelestarian satwaliar & manfaat yang bisa didapatkan jika satwa tersebut dijaga kelestariannya (Suratini, 2004).Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan habitat yang hasilnya mampu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan Rusa Jawa yang berhasil di Wanagama I.Tujuan dari penelitian ini adalah :1) Mengetahui pengaruh kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik dengan populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ;2) Mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan petak 6, hutan Wanagama I terhadap Rusa Jawa; 3) Memberikan masukan untuk membuat keputusan dan usaha konservasi Rusa Jawa di kawasan petak 6 hutan Wanagama I.
Metode yang digunakan untuk menghitung populasi Rusa Jawa adalah metode pellet count.Objek pengamatan dalam metode ini adalah kotoran satwa yang ditinggalkan dilokasi penelitian dalam satuan waktu tertentu.Sedangkan untuk pengambilan data habitat rusa digunakan membuat protocol plot dan inventarisasi vegetasi menggunakan nested sampling,sedangkan tutupan vegetasi dengan protocol sampling.Kemudian inventarisasi persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara.Data habitat rusa dianalisi dengan indeks Simpson, sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap populasi rusa menggunakan regresi linier, lalu persepsi masyarakat dengan prosentase dan interpretasi hasilnya secara deskriptif.
Hasil analisis regresi linier tidak didapatkan persamaan karena tidak ditemukan rusa di petak 6. Masyarakat tidak merasakan pengaruh terhadap kehadiran rusa & meskipun tidak merasakan manfaatnya, mereka menganggap rusa perlu untuk dilestarikan.
Pendahuluan
Rusa Jawa merupakan satwa yang hidup secara alami dan liar. Hutan Wanagama I memiliki kondisi habitat yang sangat mendukung berkembangnya Rusa Jawa di kawasan tersebut. Upaya pelestarian satwaliar perlu memperhatikan aspek sosial masyarakat dan bukan hanya aspek biologis dan ekosistem saja. Dampak negatif dari upaya pelestarian satwaliar perlu segera diatasi dengan memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat. Disamping itu, masyarakat juga perlu mendapat informasi tentang pentingnya pelestarian satwaliar dan manfaat yang bisa didapatkan jika satwa tersebut dijaga kelestariannya (Suratini, 2004). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai kelayakan habitat yang hasilnya mampu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan Rusa Jawa yang berhasil di Wanagama I.
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui pengaruh kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik dengan populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ; 2) Mengetahui persepsi masyarakat sekitar kawasan petak 6, hutan Wanagama I terhadap Rusa Jawa (Cervus timorensis) ; 3) Memberikan masukan untuk membuat keputusan dan usaha konservasi Rusa Jawa di kawasan petak 6 hutan Wanagama I.
Berdasarkan teori, rusa jawa (Cervus timorensis) selain membutuhkan padang rumput juga membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan minum. Rusa juga memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relatif tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai (Djuwantoko, 2003). Hutan Wanagama I tersusun dari 169 jenis tumbuhan yang terbagi dalam 65 blok tanaman, pada perkembangan selanjutnya jenis-jenis vegetasi di hutan Wanagama I mencapai 190 jenis. Di lokasi tersebut juga terdapat sumber air yaitu dari sungai Oyo. Restorasi rusa jawa (Cervus timorensis) di hutan Wanagama I masih perlu dikaji melalui penelitian tentang karakteristik habitat yang sesuai dengan rusa jawa (Cervus timorensis), hal ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan restorasi tersebut.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul , penelitian dilakukan pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2009 dan 20 Desember 2009, mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB. Alat yang digunakan antara lain: peta lokasi ,GPS, alat tulis, buku penduan lapangan, counter, monokuler dan binokuler, kemera , jam tangan sebagai penunjuk waktu, range finder, thermohigro dan tabung okuler.
Metode yang digunakan untuk menghitung populasi Rusa Jawa adalah metode pellet count. Objek pengamatan dalam metode ini adalah kotoran satwa yang ditinggalkan di lokasi penelitian dalam satuan waktu tertentu. Pengambilan data vegetasi, ukuran plot sample kuadrat persegi yang sering digunakan dalam analisis vegetasi adalah 1× 1 m untuk rumput, 2 × 2 untuk semai dan tumbuhan bawah (tinggi di bawah 1,5 m), 5 × 5 m untuk sapihan (diameter di bawah 10 cm dan tinggi diatas 1,5 m), 10 × 10 m untuk tiang (diameter 10-20 cm) dan untuk pohon (diameter diatas 20 cm). Protocol sampling untuk mengetahui penutupan vegetasi tumbuhan bawah dan tajuk dengan menggunakan tabung okuler, serta menggunakan density board untuk mengetahui persentase penutupan tumbuhan bawah pada petak ukur lingkaran dengan diameter 22,6 m. Kemudian inventarisasi persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara.
Hasil
Analisis dengan regresi linier tidak ditemukan hasil persamaan karena tidak ada rusa yang ditemukan di petak 6 hutan Wanagama I, Gunungkidul.
Tabel 1. Respon masyarakat terhadap keberadaan rusa jawa di Wanagama
Pertanyaan | Jawaban A | Jawaban B | Jawaban C | Jawaban D |
Bertemu rusa | Pernah (8) | Belum pernah (8) | ....(0) | |
Pengetahuan tentang rusa di Wanagama | Melihat sendiri (8) | Informasi masy. (7) | Aparat desa (0) | Lainnya (1) |
Penyuluhan | Pernah(3) | Belum(12) | ...(1) | |
Tanaman pertanian yg rusak | Tahu(12) | Tidak tahu(4) | ...(0) | |
Yang dilakukan | Menangkap rusa untuk dijual/dimanfaatkan hasilnya (1) | Membiarkan saja (14) | Melapor pada pihak wanagama bahwa rusa merusak tanaman pertanian (0) | ...(0) |
Manfaat | Menambah indah pemandangan dan sebagai sarana hiburan (4) | Kurang merasakan adanya manfaat (11) | ... (1) | |
Keberadaan rusa jawa | Perlu dilestarikan(10) | Tidak perlu dilestarikan(1) | Dibiarkan saja secara alami, apakah akan punah atau tetap ada (5) | |
Jika bertemu | Membiarkan saja(15) | Berburu/menangkap (1) | ...(0) | |
Jika rusa keluar | Mengarahkan rusa kembali (9) | Menagkap (1) | ...(6) | |
Kelestarian | Perlu(14) | Tidak perlu(1) | ...(1) | |
Pengelolaan | Dibiarkan saja secara liar atau alami (8) | Perlu dibuatkan kandang utk rusa(7) | ...(1) |
Pembahasan
Pelepasliaran rusa jawa dari penangkaran dilakukan dalam rangka restorasi rusa jawa di Wanagama I. Pada petak 6 di hutan pendidikan wanagama I tidak di jumpai rusa. Sedangkan rusa tidak terlalu suka dengan habitat yang banyak dihuni oleh manusia.
Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang keberadaan rusa di petak 6 Wanagama I maka dilakukan metode wawancara kepada 16 responden yang melakukan aktivitas sehari-hari di sekitar kawasan petak 6. Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat di sekitar wanagama I mengetahui adanya rusa di Wanagama I khususnya petak 6. Meskipun beberapa masyarakat merasa dirugikan terhadap keberadaan rusa di petak 6 karena memakan tanaman pertanian masyarakat, pihaknya tetap merasa bahwa Rusa Jawa perlu dilestarikan, karena masyarakat merasa keberadaan Rusa Jawa di hutan Wanagama tidak mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Persepsi beberapa masyarakat tentang rusa yang mengganggu bisa diakibatkan karena kurangnya sosialisasi dari pengelola Wanagama tentang pengelolaan rusa di Wanagama I. Oleh sebab itu, sebaiknya ada kerjasama antara masyarakat dan pengelola Wanagama I untuk dapat mengelola rusa di dalam hutan wanagama I sehingga tidak hanya terwujud kelestarian bagi populasi rusa namun juga ekosistem hutan Wanagama I itu sendiri dan masyarakat sekitar hutan pendidikan Wanagama I.
Dari beberapa data pengamatan yang telah disajikan maka dapat dikatakan petak 6 hutan pendidikan wanagama I berpotensi sebagai lokasi restorasi Rusa Jawa. Namun, perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat di sekitar petak 6 agar dapat melestarikan keberadaan rusa dan tumbuhan yang ada di petak 13 dengan baik dan seimbang.
Kesimpulan
1) Kondisi habitat yaitu berupa struktur vegetasi dan lingkungan fisik mempengaruhi populasi Rusa Jawa (Cervus timorensis) di petak 6,hutan Wanagama I ; 2) Masyarakat tidak merasakan adanya pengaruh dari kehadiran rusa & meskipun tidak merasakan manfaatnya, mereka menganggap rusa di kawasan petak 6, hutan Wanagama I perlu dilestarikan ; 3) Perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat di sekitar petak 6 agar dapat melestarikan keberadaan rusa dan tumbuhan yang ada di petak 6 dengan baik dan seimbang.
Daftar Pustaka
Alikodra, H. S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Anonim. 2009. Buku Ajar Petunjuk Praktikum Riset dan Manajemen Satwa Liar. Lab. Satwa Liar, Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta
Suratini. 2004. Persepsi Masyarakat Sekitar Hutan Terhadap Keberadaan Rusa Jawa (Cervus timorensis russa, Mull & Schl) di Hutan Wanagama I. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar