Pages

Minggu, 13 Februari 2011

PENGARUH STRUKTUR VEGETASI TERHADAP KEANEKARAGAMAN JENIS HERPETOFAUNA DI PETAK 6, HUTAN WANAGAMA I, GUNUNGKIDUL




INTISARI
                     Hutan Wanagama I merupakan hutan pendidikan yang memiliki berbagai jenis spesies baik flora maupun fauna. Salah satu jenis satwa liar yang ada di kawasan ini adalah kelas herpetofauna. Struktur vegetasi yang berbeda pada tiap petak di wanagama dapat mempengaruhi kondisi satwa liar yang ada di dalamnya termasuk herpetofauna. Pada sisi yang lain, reptil dan amfibi adalah satwa yang relatif sensitif terhadap pengaruh manusia. Penelitian mengenai herpetofauna sendiri masik minim, oleh karena itu perlu dikembangkan penelitian local seperti di Wanagama I ini. Sehingga hasil penelitian mampu dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan satwa liar herpetofauna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh struktur vegetasi terhadap keanekaragaman jenis herpetofauna di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul.
            Metode yang digunakan dalam pengambilan data keanekaragaman herpetofauna adalah Visual Encounter Surveys (VES) with Line Transek yaitu dengan membuat transek garis sepanjang 250 m sebanyak 3 kali ulangan dengan jarak antar transek 50 m, lebar transek 20 m, transek pertama ditempatkan dengan jarak 10 m dari tepi sungai. Struktur vegetasi diamati dengan membuat petak ukur (PU) protocol plot berbentuk lingkaran dengan jari-jari 11,3 m.
            Keanekaragaman herpetofauna dihitung dengan rumus Indeks Shannon Wiener dan hasilnya tidak dapat terdefinisi, sedangkan analisis yang dilakukan untuk faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis herpetofauna dengan analisis regresi linier, tidak bisa dicari suatu persamaan karena data keanekaragaman herpetofauna di petak 6 sendiri adalah 0 (tidak ditemukan herpetofauna). Jadi, tidak bisa dicari suatu pengaruh antara keanekaragaman herpetofauna dengan struktur vegetasi.

Kata kunci : keanekaragaman jenis herpetofauna, struktur vegetasi.
Pendahuluan
                     Hutan Wanagama I merupakan hutan pendidikan yang memiliki berbagai jenis spesies baik flora maupun fauna. Salah satu jenis satwa liar yang ada di kawasan ini adalah kelas herpetofauna. Struktur vegetasi yang berbeda pada tiap petak di wanagama dapat mempengaruhi kondisi satwa liar yang ada di dalamnya termasuk herpetofauna. Pada sisi yang lain, reptil dan amfibi adalah satwa yang relatif sensitif terhadap pengaruh manusia. Penelitian mengenai herpetofauna sendiri masik minim, oleh karena itu perlu dikembangkan penelitian local seperti di Wanagama I ini. Sehingga hasil penelitian mampu dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan satwa liar herpetofauna.
  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur vegetasi terhadap keanekaragaman jenis herpetofauna di petak 6 hutan Wangama I, Gunungkidul. Berdasarkan teori bahwa herpetofauna menempati habitat yang sangat bervariasi mulai dari akuatik, semi akuatik, terestrial, fusorial, dan arboreal, dan juga mengingat sebagian besar perubahan habitat di hutan Wanagama I terjadi secara suksesi atau kebalikannya, yaitu retrogresif. Oleh karena itu, konsep teori suksesi merupakan dasar yang sangat berguna untuk memprediksi adanya respon satwa liar terhadap perubahan habitat. Dalam penelitian kali ini habitat berupa pendekatan struktur vegetasi yang ditanam di hutan Wanagama I yaitu meliputi keanekaragaman dari masing-masing tingkat pertumbuhan dan kepadatannya. Herpetofauna merupakan salah satu kelompok satwa yang mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan, oleh karena itu herpetofauna dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan.  Perubahan kondisi lingkungan pada suatu ekosistem dapat dilihat dari perubahan populasi dan keanekaragaman jenis herpetofauna.

Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan di Hutan Wanagama I Gunung Kidul pada petak 6.Penelitian ini dilakukan pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2009, mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Alat yang digunakan antara lain: GPS, Kompas,Klinometer, Thermohigrometer,Tabung okuler, Density board, Rollmeter, Peta Wanagama 1, Plastik berbagai ukuran, Spidol marker, Kaliper, Timbangan analitik/pesola, Kamera (spesifikasi foto macro).
Metode yang digunakan dalam pengambilan data keanekaragaman herpetofauna adalah Visual Encounter Surveys (VES) with Line Transek yaitu dengan membuat transek garis sepanjang 250 m sebanyak 3 kali ulangan dengan jarak antar transek 50 m, lebar transek 20 m, transek pertama ditempatkan dengan jarak 10 m dari tepi sungai. Pengambilan data herpetofauna dilakukan dengan menangkap jenis herpetofauna yang ditemui apabila dimungkinkan, apabila tidak memungkinkan untuk ditangkap maka dicatat penciri penting dari jenis tersebut dapat berupa warna atau pola yang dapat menjadi ciri khas. Setelah dilakukan penangkapan maka tindakan selanjutnya adalah melakukan morfometri yaitu diukur Snout Vent Length (SVL), Total Length (TL), berat , serta dicatat aktivitas saat ditemukan, jenis substrat dimana jenis tersebut ditemukan.
Struktur vegetasi diamati dengan membuat petak ukur (PU) protocol plot berbentuk lingkaran dengan jari-jari 11,3 m. Jarak antar PU adalah 200m dengan jumlah minimal 15 PU yang dianggap akan mewakili. Protokol plot tersebut selanjutnya dibagi menjadi 4 arah mata angin, yang masing-masing diambil data mengenai penutupan semak, belukar, tiang, dan pohon menggunakan Density Board. Analisis vegetasi dilakukan dengan pembuatan nested sampling di dalam protokol plot dengan ukuran 2 X 2 m untuk semai dan tumbuhan bawah, 5 X 5 m untuk sapihan, 10 X 10 m untuk tiang, dan 20 X 20 m untuk pohon. Kemudian diukur tinggi tegakan, luas bidang dasar, dan keadaan fenologi ( berbunga, berbuah, bersemi, dan meranggas ). Keanekaragaman jenis herpetofauna dianalisis menggunakan indeks Shannon Wiener. Analisis dilakukan menggunakan program excel “biological statistic”.
H =                        
H: Index Shannon-Wienner   
ni : Jumlah individu spesies i
N   : Jumlah total Individu
Kelimpahan jenis vegetasi dihitung mengunakan indeks Simpson.
   
D= indeks keanekaragaman jenis       
 ni=jumlah individu spesies i
N= jumlah total jenis                    
S = jumlah jenis
         Untuk mengetahui faktor-faktor vegetasi dan lingkungan yang berpengaruh terhadap keanekaragaman burung di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul maka digunakan analisis statistik. Disini digunakan regresi linear dimana suatu variabel akan berpengaruh terhadap keanekaragaman burung apabila diperoleh nilai signifikan < 0,05.
Hasil
1.Keanekaragaman jenis herpetofauna
Tabel 1. Herpetofauna yang ditemui pada petak 6
No
Petak
Jumlah
 1
6
0
ISW=tidak terdefinisi
2.Faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis herpetofauna
            Dengan menggunakan analisis regresi linier, diuji apakah factor struktur vegetasi berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis herpetofauna di hutan Wanagama I Gunung Kidul. Sebagai dependent variable adalah keanekaragaman herpetofauna, sedangkan sebagai independent variable adalah kepadatan semak, kepadatan belukar, kepadatan tiang, kepadatan pohon, keanekaragaman semai, keanekaragaman sapihan, keanekaragaman tiang, keanekaragaman pohon. Dari analisis yang dilakukan, tidak bisa dicari suatu persamaan karena data keanekaragaman herpetofauna di petak 6 sendiri adalah 0 (tidak ditemukan herpetofauna). Jadi, tidak bisa dicari suatu pengaruh antara keanekaragaman herpetofauna dengan struktur vegetasi.

Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh dengan metode point count, tidak diperoleh satu pun herpetofauna di petak 6 hutan wanagama I, Gunungkidul. Hasil perhitungan dengan menggunakan indeks Shannon Wiener diperoleh keanekaragaman jenis herpetofauna di petak 6 hutan pendidikan wanagama I juga tidak dapat terdefinisi karena tidak ada herpetofauna yang ditemukan, sehingga saat dilakukan perhitungan angka 0 dibagi 0 tidak mampu didefinisi.  Hasil pengamatan herpetofauna yang dilakukan di petak 6 hutan pendidikan wanagama I tidak didapatkan herpetofauna, hal itu dikarenakan pengamatan herpetofauna dilakukan pada siang hari sedangkan herpetofauna bersifat nocturnal (hewan yang keluar pada malam hari). Sehingga pada hasil pengamatan sulit ditemukan herpetofauna di petak 6 hutan pendidikan wanagama I.
Petak 6 mempunyai struktur vegetasi yang belum mencapai tingkatan pertumbuhan tertinggi yaitu pohon. Kawasan ini masih didominasi tiang dan hanya beberapa plot saja yang dapat ditemukan tingkatan pohon dengan jenis yang masih sedikit. Kondisi tutupan vegetasinya pun masih renggang dan masih banyak cahaya yang mampu masuk sampai ke lantai hutan. Amphibi biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang mempunyai tutupan vegetasi yang cukup lebat dan tutupan seresah yang tebal sebagai tempat bernaung. Sedangkan untuk kelompok reptile banyak ditemukan di lokasi yang pepohonannya cukup banyak dan ruang terbuka di atas bebatuan untuk berjemur. Tidak ditemukannya herpetofauna mungkin juga dikarenakan ketidak telitian dalam pencarian herpetofauna di petak 6, meskipun kondisi di kawasan ini masih mendukung keberadaan herpetofauna.
            Perhitungan dilakukan menggunakan metode R statistik dan hasil yang di dapat menyatakan bahwa tidak bisa dicari suatu persamaan karena data keanekaragaman herpetofauna di petak 6 sendiri adalah 0 (tidak ditemukan herpetofauna). Jadi, tidak bisa dicari suatu pengaruh antara keanekaragaman herpetofauna dengan struktur vegetasi. Hal ini mungkin dikarenakan data hasil pengamatan yang kurang lengkap dan jumlah herpetofauna yang ditemukan nilainya 0 sehingga untuk mengetahui pengaruh vegetasi pun sulit dilakukan analisis.

Kesimpulan
Struktur vegetasi tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis burung di petak 6 hutan Wanagama I Gunung Kidul.
Daftar pustaka
 Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. McGraw – Hill Book Company. New York.
Soetrisno, Kadar. 1996. Silvikultur. Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda.
Tim Laboratorium Satwa Liar. 2008. Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Riset dan Manajemen Satwa Liar I. Fakultas Kehutanan. UGM. Yogyakarta.







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar